Setelah sekian lama tidak eksis di blog wordpress, disebabkan butuh sedikit waktu beradaptasi di lingkungan baru, akhirnya pada saat ini saya kembali menulis untuk kembali menunjukkan eksistensi
Sebelum menulis postingan kali ini, saya memeriksa statistik blog, ternyata total views sudah melewati 10k. Selamat buat blog ini, dan tidak lupa saya mengucapkan terimakasih kepada para pengunjung setia blog In Your Eyes @ matami.wordpress.com.
Pada tulisan kali ini, saya akan sedikit mengupas film yang baru saja dirilis, Laskar Pelangi, berdasarkan novel populer Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.
Film ini bercerita tentang kehidupan 10 anak dari keluarga miskin yang bersekolah di sebuah Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah di pulau Belitong yang penuh dengan keterbatasan. Kesepuluh anak tersebut adalah:
- Ikal
- Lintang
- Sahara
- Mahar, si boy
- A Kiong
- Syahdan
- Kucai
- Borek, the new Samson
- Trapani
- Harun
Meskipun mereka belajar di sekolah dengan banyak keterbatasan, setiap anak mempunyai kelebihan masing-masing. Contohnya Lintang dengan otaknya yang jenius, Ikal sang penulis, Mahar sang maestro musik, dengan ide-ide kreatifnya, dan bahkan Harun, anak yang mempunyai keterbelakangan mental adalah penyelamat tetap eksisnya SD Muhammadiyah tempat mereka bersekolah.
Bagi yang sudah membaca novelnya pasti tahu dengan pasti kisah-kisah yang mereka lalui. Tidak berbeda jauh dengan novel Laskar Pelangi, versi filmnya memvisualisasikan novel tersebut, dengan berbagai penyesuain tentunya.
Dimulai dari hari pertama masuk sekolah, bu Muslimah (guru di SD Muhammadiyah) sempat kuatir karena murid yang datang mendaftar baru berjumlah 9 orang. Padahal pengawas pendidikan mensyaratkan jumlah murid paling tidak 10 orang, jika tidak maka sekolah tersebut akan ditutup. Datang sebagai penyelamat adalah Harun, yang datang mendaftar ke sekolah disaat-saat terakhir.
Perjuangan Lintang ke sekolah, melewati jalan panjang melewati sebuah jalan dengan penunggu setia, seekor buaya. Namun Lintang tidak pernah menyerah, bahkan dia membuktikannya dengan membawa SD Muhammadiyah juara cerdas cermat bersama Ikal dan Mahar.
Terdapat juga kisah seseorang yang begitu bersemangat membeli kapur ke kota, karena ingin bertemu dengan putri pujaannya. Siapa lagi kalau bukan Ikal, yang cintanya kandas karena putri pujaannya hijrah ke daerah lain. Tapi usahanya patut diacungi jempol, mulai dari tulisan yang berisi puisi-puisi indah, bahkan sampai meniru gaya raja dangdut (?) bung Rhoma Irama.
Mahar tidak mau kalah, dia membuat sebuah konsep seni yang membuat SD Muhammadiyah juara pada perayaan 17-an. Piala pertama bagi SD Muhammadiyah, yang ditempatkan di sebuah lemari baru, begitu kontras dengan bangunan SD Muhammadiyah yang hampir rubuh. Tidak bosan-bosan bu Muslimah dan murid-muridnya memandangi piala tersebut.
Dan kisah-kisah lainnya. Silahkan menontonnya, agar anda dapat merasakan bagaimana susahnya mendapatkan pendidikan di negara tercinta ini




8 responses so far ↓
Amrin // September 27, 2008 at 11:55 pm |
Ayo-ayo anak Del aturan rame-rame nonton ini supaya agak belajar kita dari pengalaman 10 orang anak ini. Heheheh…
rebecca // September 29, 2008 at 8:18 pm |
Kok tekan kali ya di ‘bung Rhoma Irama’ nya..?
Curigaa aku
Tapi overall…Mantap memang ya, apalagi nontonnya sama…..
bonatua // October 14, 2008 at 6:44 am |
Untunglah aku dah nonton film ini, jadi bisalah baca ulasanmu ini.
Film ini memang masuk calon “Best Movie of The Year” versi-ku…
joicehelena // October 15, 2008 at 1:17 pm |
duhhh…..
ito hasian ga ngajak2 ya nonton….
huuuuu……
Panda // October 21, 2008 at 3:56 pm |
pilem ini emang keren
Pahitean // November 16, 2008 at 11:30 am |
keren-keren… abis… salam kenal semuanya
Martini Sikumbang // December 4, 2008 at 7:09 am |
Filim ini memamg patut untuk ditonton,bakal dijamin tidak aka nyesal nonton filim ini.
ahmad ashari // April 16, 2009 at 9:04 pm |
keren abizzzzzzzzzzz