In Your Eyes

Belum Ada Judul

June 7, 2008 · 5 Comments

Karena hari ini saya begitu suntuk, saya menyempatkan diri untuk menulis di blog ini. Sekedar mengurangi rasa suntuk yang semakin menjadi-jadi. Tapi saya tidak tahu apakah cara ini efektif mengurangi rasa suntuk atau hanya akan menambah kesuntukan saja. Hasilnya akan ketahuan setelah menyelesaikan tulisan saya kali ini.

Saya ingin sedikit bercerita tentang perjalanan saya ke Bandung dari tanggal 26 Mei s/d 2 Juni 2008. Ada keperluan yang sangat penting, sehingga saya harus berada disana selama lebih dari seminggu. Berangkat dari Laguboti menuju Medan, pada hari Minggu, 25 Mei 2008. Walaupun tidak begitu suka dengan iklim di Medan yang selalu membuat saya berkeringat, saya terpaksa berangkat lebih awal karena harus naik pesawat pagi pada keesokan harinya. Saya harus duduk dengan tegap selama dalam perjalanan. Bukan karena sedang latihan duduk yang baik, akan tetapi karena kebetulan disamping saya duduk kumpulan ibu yang mempunyai berat badan diatas normal. Sebagai seorang pemuda yang baik, saya mengalah membiarkan mereka bersandar, sambil berharap ibu-ibu tersebut berbaik hati untuk sesekali memberikan sedikit ruang untuk bersandar. Ternyata harapan itu hanya tinggal harapan. Meskipun dengan kondisi seperti itu, sesekali saya masih menyempatkan diri ber-sms ria dengan seseorang nan jauh di seberang sana. Seperti yang sudah saya duga, kota Medan memberi sambutan dengan hawa panasnya. Sebelum saya sempat mempersiapkan diri untuk mencari tempat perlindungan dari hawa panas tersebut, keringat sudah berlomba keluar dari pori-pori. Perjalanan Laguboti ke Medan begitu melelahkan.

Keesokan harinya, kira-kira jam 8 pagi, saya sudah bergegas berangkat ke Bandara, karena harus naik pesawat jam 10 pagi. Agar perjalanan lebih cepat dan ekonomis, saya memilih naik becak daripada naik angkot atau taksi. Namun secara tak terduga, di tengah perjalanan, becak yang saya tumpangi ditangkap polisi lalu lintas yang sedang mengadakan patroli. Tanpa SIM dan STNK, hanya mengandalkan alasan-alasan klasik tapi jitu, ‘abang’ becak berhasil meyakinkan polisi, sehingga mengizinkan becak tersebut untuk melanjutkan perjalanan.

Pesawat take-off tepat pada waktunya, sehingga kami (saya dan teman seperjuangan) tiba di Jakarta kira-kira jam 12 siang. Setelah menyempatkan diri sejenak makan siang, kira-kira jam 1 siang, perjalanan kembali dilanjutkan menuju Bandung. Perjalanan dari Jakarta ke Bandung berbeda kurang lebih 175 derajat, dibandingkan dengan perjalanan dari Laguboti ke Medan. Perjalanan kali ini begitu nyaman.

Berbeda dengan penyambutan kota Medan (kira-kira 165 derajat), kota Bandung menyapa dengan hawanya yang sejuk. Dengan diantar dua bidadari, Oline dan Titie (tengkiu bgt), yang bercita-cita jadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat penginapan selama berada di Bandung.

Selama di Bandung, tidak banyak hal yang saya lakukan. Saya lebih sering berada di penginapan, mencoba mempersiapkan diri sebaik-baiknya, dalam menghadapi masa depan (terlalu abstrak). Namun demikian, setiap harinya,  selama di Bandung, selalu ada saat-saat spesial (private).

Tepat pada hari senin, 2 Juni 2008, kami harus segera meninggalkan Bandung, untuk kembali ke tempat semula, Laguboti tercinta, yang hawanya tidak jauh berbeda dengan Bandung (ada yang selalu tidak setuju dengan hal ini). Diawali dengan pesawat yang delay selama kurang lebih satu jam, kami akhirnya tiba di Medan kira-kira jam 4 sore. Sudah agak tengah malam saya tiba di Laguboti. Badan rasanya sangat lelah, sehingga langsung tertidur pulas.

Sampai di akhir tulisan saya kali ini, sepertinya saya masih suntuk. Mungkin saya harus mencoba cara lain, untuk mengurangi rasa suntuk ini, sehingga mendekati nol.

Categories: Current Affairs

5 responses so far ↓

Leave a Comment